"Pada hari minggu ku turut ayah ke kota/ naik delman istimewa ku duduk di muka.."
Sepenggal lirik lagu anak-anak "Naik Delman" ini mengingatkan kita pada delman
sebagai alat transportasi utama warga Jakarta. Ketika banyak orang masih berpergian
dengan berjalan kaki, naik delman masih merupakan sebuah kemewahan. Hampir di setiap
sudut kota Jakarta "tempo doelo" terdapat delman-delman berjajar menunggu penumpang.
Keadaan begitu cepat berubah. Pada zaman moderen ini delman harus mengalah pada
kendaraan bermotor yang semakin menguasai jalanan ibu kota. Perlahan namun pasti
delman mengalami penyempitan daerah oprasi. Bahkan delman di pusat kota hanya dapat
dijumpai di taman-taman hiburan dan berfungsi sebagai angkutan wisata.
Adanya Surat Keputusan Walikota Jakarta tentang Pelarangan Beroprasinya Delman
tertanggal 15 Juni 2007 bernomor 911/1.754 membuat delman semakin tersingkirkan.
Namun semua himpitan ini tidak membuat Bang Sidik, salah seorang kusir delman menangisi
keadaan. Ia tetap setia pada profesinya yang dijalani secara turun temurun. Tanpa terasa sudah
hampir genap setengah abad ia menarik delman. Mulai dari tarif hanya Rp25 hingga sekarang yang
pada hari-hari libur bisa sampai Rp5000-Rp10.000 perorang untuk sekali putaran.
Pada saat krisis ekonomi tahun 1980-an, ia sempat istirahat dan menjadi juru parkir di kawasan blok M, Jakarta Selatan.
"Dulu mah de, orang-orang pada suka naik delman. Sekarang mah semenjak angkutan mulai ada,
mereka lebih memilih naik angkot biar lebih cepet," ujar Bang Sidik seraya mengelus-elus kudanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar